Rabu, 13 Agustus 2014

“ Mengenal Gaya Komunikasi dan Kebutuhan Emosional Pada Pria "

Resume Materi Kopdar#4
Komunitas To Be Wonderful Wife
Tanggal : 6 Juli 2014
Pemateri : Adri Suyanto
(Trainer- ayah 2 putri)

Materi ini sbnrnya terinspirasi dari buku Men Are From Mars, Women Are From Venus. Mengapa materi ini sangat penting dan wajib diketahui oleh semua (calon) istri?

Yup, krn secara psikologis kebutuhan seorang laki2 berbeda dg wanita. Krn cara mereka berkomunikasi berbeda dg cara wanita berkomunikasi.
Krn kita sbg sosok kaum hawa seringkali justru bersikap dan menganggap sama apa yg mereka rasakan dg apa yg kita rasakan, menganggap sama apa yg mereka butuhkan dg apa yg kita butuhkan, menganggap sama bgmn cara mereka menyelesaikan mslh dg bgmn cara kita menyelesaikan masalah. Menganggap sama inilah yg justru akhirnya membangun jurang yg semakin lebar antara suami dan istri. Itulah mengapa penting bagi kita untuk memahami materi ini.

Ada bbrp hal yg tidak disebutkan dlm buku ini. Pada dasarnya tatacara komunikasi jg dipengaruhi oleh lingkungan dan karakter. Kalau dalam pelajaran biologi kita dulu ada istilah fenotif = genotif + lingkungan
Ini jg berlaku dalam hubungan dlm rumah tangga.
Misal secara psikologis tentu orang2 dg tipe sanguinis akan berbeda dg mereka yg bertipe melankolis, koleris, dan plegmatis.
Org sanguinis sepert sy adalah tipe yg hidup di masa kini, sedangkan istri sy bertipe melankolis yg bs hidup di masa yg akan datang. Sehingga lebih sering ketika berdiskusi sy bs mengandalkan argumen2 beliau yg memang bs berpikir jangka panjang dan analitis.
Kalau seorang suami tidak menyadari perbedaan ini mungkin yg muncul adalah perasaan selalu dikalahkan oleh istri krn lbh sering berargumen dan beranalisis dlm diskusi. Padahal ini sebuah keuntungan tersendiri. Bs menutupi kekurangan kita dg kelebihannya.

Begitu jg sebaliknya. Oleh karena itu tak ada salahnya saat kita telah memiliki pendamping hidup nanti bs melakukan tes personality ini. Agar kita tahu apa dan bagaimana sih tipe kepribadian kita dan suami kita. Agar kita faham apa sih kelemahan pd tipe kita dan suami kita. Mengetahui dan memahami inilah salah satu upaya untuk menghindari konflik yg berlebihan. Bs searching koq ttg tes dan keterangan tipe2 personality ini.
Sebenarnya tes kepribadian jenis ini jg dipengaruhi lingkungan. Ada tes lain sebenarnya yg bs kita pakai untuk melihat jenis kepribadian kita scr genetik dan ini ilmiah. Tes stifin. Kita akan tahu apakah kita masuk kategori org sensing, thinking, intuiting, feeling, ataukah insting. Saat kita tahu maka kita bs tepat cara mengarahkan dan memotivasi. Kebetulan sy type intuiting ekstrovert dan istri st intuiting introvert.

Hal lain yg tidak disebutkan di buku ini dan perlu kita pahami adalah ternyata selain type kepribadian mempengaruhi karakter seseorang, lingkungan jg mengambil peran penting dlm hal ini.
Bagi seorang suami spt sy yg lahir  dan besar di kota kecil mungkin memiliki lingkungan yg tidak sama dg istri yg lahir dan besar di kota besar.
Jika kami terbiasa berbicara dg volume tinggi, sebaliknya dg istri.
Jika di daerah sy cara "memuji" anak kecil dg ungkapan misalnya : wah arek koq elek, irunge pesek.. (Wah anak koq jelek, hidungnya pesek)
Tapi bagi istri sy yg mendengar ungkapan ini di awal tentu akan sangat kaget dan tersinggung.
Yup, ternyata lingkungan jg berpengaruh dlm pola interaksi suami-istri. Dan saling bercerita, menyampaikan apa yg disuka dan tidak disuka dr kebiasaan pasangan hidup kita bs membantu proses adaptasi semakin mudah.

Kembali pada buku men are from mars, women are from venus. Ada bbrp bab yg coba mengupas ttg perbedaan umum pada seorang pria dan wanita. Apa saja dan bgmn berkompromi dg perbedaan itu?

A. Perbedaan nilai (value)
- Perempuan : memberi  atau menawarkan petunjuk/nasehat tanpa diminta
Bagi kaum perempuan yg lbh sering menyenangi pola kedekatan hubungan. sering ngobrol dg tmn2 kita, kadang saling curhat dan menceritakan masalah atau kegalauan hati, lalu kawan kitapun memberikan nasihat meski tanpa kita minta. Dan kita fine2 aja. Malah sebaliknya: senang. Betul??

Padahal, pola ini tidak berlaku bagi para laki-laki ! Mereka akan merasa tidak dihargai saat perempuan melakukan hal itu. Karena secara naluri, fokus laki-laki ada pada proses keterampilan dan  penyelesaian masalah. Mrk tidak akan pernah bertanya dan minta solusi sampai ia merasa paling buntu. Krn tantangan skaligus mjd prestasi bg mereka saat bs menyelesaikan masalah. Mereka akan meminta masukan solusi saat mrk BUTUH dan mereka akan  bertanya/mengungkapkannya. 

- Laki-laki : menawarkan penyelesaian, tanpa menghiraukan perasaan.
Krn tipe umum laki-laki yg tidak akan bertanya kecuali sdh buntu dan merasa perlu meminta bantuan, maka ketika ia dapati seorang istri sedang menyampaikan keluh kesahnya hampir dipastikan ia akan memberi solusi. Karena ia pikir kondisinya sama.
Padahal biasanya perempuan menceritakan masalahnya lebih sering hanya untuk minta didengarkan, bukan untuk dikritik dengan masukan yang kadang kurang menghiraukan perasaan.

Contoh kasus, ketika ada sepasang suami istri yang mencari suatu alamat. Sang suami yang merasa tahu dimana letak alamat tersebut membawa pasangan itu “nyasar”. Sebagai istri yang sebenarnya tahu jalan menuju alamat tersebut, pasti kita ingin cepat2 memberitahu. sebaiknya kita menahan diri sampai ditanya oleh suami. Ini untuk menjaga harga dirinya sekaligus sarana bagi kita untuk belajar berkompromi dg karakter umum pd laki2 ini.
“Kunci mulutmu, tahan hatimu”, mungkin itu kata mutiara yang cocok untuk istri pada saat kondisi seperti itu.

Begitu jg dg para suami, saat istri sedang bercerita, perhatikan ia. Meski hanya dg menatap wajah, sesekali bilang "oo.. Hmm.. Ya.. Begitukah?.. Dsb " krn bs jd mereka hanya ingin didengar.

B. Mengatasi Ketegangan Jiwa
- Perempuan : membicarakan masalah a.k.a curhat, minimal melegakan walaupun tidak menyelesaikan masalah. Karena secara naluriah mereka merasa perlu memperbincangkan apa yg merisaukan mereka.
- Laki-laki : menarik diri, masuk “gua” dan memikirkan persoalan mereka dlm diam.

Jika seorang pasangan suami-istri mengalami suatu konflik, umumnya yg didapati adalah sang istri ingin bicara dan menuntut suaminya bicara juga, sedangkan suaminya memilih diam. Bagi istri yg blm paham perbedaan naluriah ini justru akan terjebak dlm permasalahan yg lebih rumit. Menuduh suami lari dari masalah dan tidak mau menyelesaikan masalah. Atau bahkan istri akan merasa tidak berharga krn pasangan hidupnya enggan bercerita apa yg merisaukan mereka.

Setelah mengetahui perbedaan naluriah ini, kita jadi tersadar bahwa cara kita menyelsaikan masalah tentu berbeda dg cara para suami menyelesaikan masalah. Jika kita memilih berbicara, mereka mempunyai “gua”nya sendiri, yaitu tempatnya sendiri untuk menenangkan diri, memikirkan solusi dan mengembalikan semangat hidupnya.

Saat suami mulai memasuki “gua”nya, sebagai seorang istri kita harus menahan diri dan memberi waktu pada mereka. Mungkin ada perasaan ndak tega kalau laki2 yg ia cintai "terbenam" dlm goa untuk menyelesaikan masalahnya, tapi percayalah akan sangat membantunya saat kita menghargai dan memberikan waktu baginya. Jika sdh saatnya, ia akan segera keluar sendiri dari goanya.

Istri belajar menghargai "goa", sedangkan suami belajar mendengarkan menjadi point penting pada bab ini.

C. Cara Memotivasi
- Perempuan : termotivasi saat dihargai (diperhatikan, didengarkan, dipuji dsb)
Ex : saat suami memuji masakan/pakaian yg dikenakannya
- Laki-laki : termotivasi saat merasa dibutuhkan
Ex : saat perempuan meminta tolong pada suaminya.

Istri belajar cara menerima, sedangkan suami belajar cara memberi.
Krn bagi wanita ia akan bahagia saat yakin kebutuhan2nya akan dipenuhi, bkn sekedar urusan materi, tp jg kebutuhan emosi seperti perlu merasa dicintai dan dihargai. Oleh karena itu kaum perempuan lbh sering memberi, lbh sering mengalah dan berkorban. Tapi waspadai fase bosan pd sifat ini. Entah pada thn ke berapa pernikahan akan mulai muncul pemikiran kenapa harus selalu aku yg mengalah? Ada tuntutan keinginan agar mendapat dukungan emosional yg lebih "layak" dr pasangannya.
Pengertian, kepercayaan, kasih sayang, penerimaan dan dukungan merupakan pemecahannya. Bukan sekedar SALING menyalahkan pasangan kita. Termasuk bagi para istri, drpd menyalahkan seorang suami akan kekurangannya dlm memberi lbh baik mulai bljr menerima kekurangannya dan mengkomunikasikan keinginan hatinya dg cara yg manis.
Itulah kenapa td disebutkan wanita belajar menerima dan laki2 belajar memberi.

Contoh kasus, pada awal pernikahan lelaki selalu menjadi pihak dominan dan istri biasanya mengalah dengan alas an ingin menjadi istri yang sholehah. Padahal istri juga punya titik batas yang bisa menjadi letusan gunung jika ditahan terlalu lama. Jadi, ungkapkan keinginan sekecil apapun dan diskusikan bersama untuk memperkecil konflik.

D. Bahasa
Pada bab ini kita akan mempelajari kesalapahaman yg umum terjadi antara pria dan wanita krn mereka berbicara dg bahasa yg berbeda.
- Perempuan : pesan implisit
- Laki-laki : pesan eksplisit

Untuk dpt mengungkapkan perasaan2 secara utuh, wanita menggunakan berbagai macam superlatif, metafor dan generalisasi. Jika seorang wanita mengatakan "aku tidak apa2" sebenarnya ia sedang memberi isyarat kepada suaminya bahwa ia sedang apa2. Tapi suami tak bisa menangkap pesan ini dg baik kfn memang kaum adam tak bisa menangkap pesan implisit. Jika yg istri katakan A padahal maksudnya B, maka yg bs mereka tangkap adalah apa yg dikatakan dan dimaksudkan istri adalah A.

Jadi para istri, mulailah belajar
berkomunikasi dengan bahasa yang mudah dipahami, jangan menggunakan kalimat2 ambigu. karena pasangan kita bukan seorang paranormal yang bisa tahu isi hati kita. Jadi pilihlah bahasa yang paling mudah dipahami untuk mengurangi miskomunikasi. Jika ingin A katakan A. Jika berharap B katakan B.

Begitu pula sebaliknya. Jika suami berkata A, brarti istri tak perlu menafsirkan B seperti kebiasaanya. Jika suami mengatakan aku tak apa2 dan semuanya beres, yakinlah saja bahwa memang itu yg ia rasakan. Bukan justru menafsirkan dg cara kita bahwa suami pasti  apa2 dan sedang ada yg tak beres.

E. Keintiman :
Pada bab 6 dan bab 7 pd buku best seller karya John Grey ini akan membedah ttg perbedaan pola kebutuhan keintiman antara wanita dan pria.
- Perempuan : seperti gelombang, ketika senang maka akan sangat senang, ketika sedih akan sangat sedih. Gelombang ini bs naik dan turun dlm waktu yg cepat dan drastis.
Jika ia merasa dicintai, ia akan senang dan gelombangnya akan naik, tp saat suasana hatinya sedang tak enak gelombang ini bs turun secara tiba2.
- Laki-laki : seperti karet gelang, kadang butuh waktu untuk menarik diri agar setelahnya semakin rekat.
Apabila dipahami, siklus kehangatan laki2 ini dpt memperkaya suatu hubungan, tp krn disalahartikan, siklus ini justru menciptakan kesulitan2 yg tidak perlu.

Sy bersama istri pernah melihat salah satu film india yg menggambarkan kondisi ini. Sang suami ijin pergi bbrp saat untuk me time. Agar saat ia kembali kerumah ia merasakan kerinduan yg mendalam dan cinta yg semakin besar pd istri dan anak2nya. Yup, itulah makna karet gelang. Jd para istri tak perlu menuduh yg bukan2 saat suami mulai sejenak menjauh, atau tak perlu panik dg mencari tahu apa salahnya sampai suami mulai menjauh. Ingat, itu kebutuhan kaum adam. Karet gelang. Ia kan kembali pada kita segera dg kerinduan dan cinta yg semakin besar.

F. Kebutuhan emosional
Kaum pria dan kaum wanita umumnya tidak menyadari bahwa mereka mempunyai kebutuhan emosioanal ug berbeda. Akhirnya mereka tidak tahu cara saling mendukung. Lazimnya pria memberikan apa yg dikehendaki pria dlm hubungan itu, begitu jg wanita. Masing2 secara keliru menganggap pihak lain mempunyai kebutihan dan keinginan yg sama. Akhirnya justru kecewa yg didapat.

- Perempuan perlu menerima: perhatian, pengertian, rasa hormat, kesetiaan, penegasan, jaminan
- Laki-laki perlu menerima: kepercayaan, penerimaan, penghargaan, kekaguman, persetujuan, dorongan
Perhatikan perbandingan di tiap urutan masing2. Misal saat wanita butuh perhatian, pria butuh kepercayaan. Dst

Pada poin penerimaan pd kekurangan ini ada 2 hal sensitiv yg perlu dijaga oleh seorang istri. Masalah maisyah/pendapatan dan ttg kehidupan di atas ranjang. Butuh ketrampilan lebih dan kehati2an saat akan mengkomunikasikan pd suaminya dalam rangka mencari solusi. Jika tidak tepat cara menyampaikannya bs2 justru melukai hati sang suami.

G. Cara berkomunikasi selama saat2 sulit
Pada bab 11 buku ini kita akan mempelajari bgmn menyampaikan perasaan2 yg sulit. Tentu tdk mudah saat kita merasa sedih, kecewa diminta menyampaikan perasaan dg penuh cinta. Perbincangan2 yg berniat untuk menyelesaikan masalah justru terkadang menjadikan masalah semakin rumit. Krn kondisi marah atau sedih, kita para wanita justru akan lebih banyak menangis dan tak mampu menyampaikan apa yg menjadi uneg2 kita.

Kita bisa mencoba melakukan cara yg disarankan John Gray pada buku ini dg coba berkomunikasi dg surat cinta. Yup.. Menuliskan apa yg membuat kita marah, sedih, takut, menyesal sekaligus cinta pada sosoknya. Dengan menuliskan perasaan2 kita dg cara tertentu, perasaan2 negatif itu secara otomatis akan berkurang dan perasaan2 positif akan bertambah.

Saya dan istri termasuk mempraktekkan cara ini jika kami tak mampu mengkomunikasikan masalah secara verbal. Kami salkng berdiskusi dan menuliskan perasaan dan harapan dlm bentuk tulisan. Tidak harus dg kertas, tp jg bs via bbm. Dan alhamdulillah cara ini hampir selalu ampuh untuk bs saling memahami apa yg dirasakan dan diharapkan masing2 pihak. Dengan demikian solusi pun lebih mudah dicari dan disepakati.

Proses komunikasi laki-laki dan perempuan itu DINAMIS, tak ada patokan pasti. Tidak semua yang dibuku itu bisa diterapkan pada semua orang.
Bahkan proses ta’aruf dilakukan terus-menerus sampai nantinya dipisahkan, begitu nasehat ust. Salim A Fillah.
Jadi, pahamilah karakter masing-masing untuk mempermudah proses komunikasi kita agar bisa memperkecil konflik.

Kamis, 29 Mei 2014

"katakan yang benar walaupun pahit"



3 minggu ini melihat Timeline twitter saya merasa risih, disaat hiruk pikuk dunia maya berseliweran info tentang calon pemimpin negeri ini, tak sedikit sang simpatisan yang bukan memunculkan visi, ide, gagasan dari sang idaman malah lebih banyak mengangkat isu-isu negative tentang lawan calon. Dengan harapan yang belum menentukan pilihan bisa segera menentukan pilihanya setelah mengetahui “keburukan” dari calon tandinganya tersebut.

Sederhananya, memilih pemimpin yang amanah, jujur, dan adil itu wajib bagi kita, terlepas sistem pemilihan yang ada di negeri ini belum sempurna. Namun mensyiarkan pemimpin yang sholeh pun wajib dengan menggunakan kata-kata, sikap yang santun dan berakhlak mulia, sehingga hati tetap terjaga dari kekotroan sikap ujub, dan fitnah terhadap syiar-syiar yang dilakukan. Ingat,momentum ini terjadi hanya 5tahun sekali, jangan sampai kakotoran hati kedengkian hati terbawa oleh sepanjang hidup kita sampai mati. NA’udzubillah.

Ada kisah menarik yang saya baca di buku dalam dekapan ukhuwah nya mas salim a fillah, semoga kita dapat mengambil hikmah dari cerita seorang sahabat dalam mengamalkan hadits nabi.


Muhammad ibn Sirin, ‘alim besar murid Anas ibn Malik rodhiyallohu ‘anhu itu terpekik. “Inna lillahi wa inna ilaihi rooji’uun,” gumamnya. Dia baru saja membuka salah satu dari empat puluh kaleng besar minyak zaitun yang dikulaknya dari pemasok dengan berhutang. Tak tanggung-tanggung, nilai akadnya kali ini 40.000 dirham. Yang membuat dia terkejut di pagi itu adalah bahwa di dalam kaleng pertama yang dibukanya, dia menemukan bangkai tikus.

“Seluruh minyak ini,” ujarnya kepada seorang pelayan, “Dibuat di tempat penyulingan yang sama. Aku khawatir bahwa najis bangkai ini telah mencemari keseluruhan minyak. Maka buanglah semuanya!”

Dan saat itu modal di tangan Muhammad ibn Sirin sedang nihil. Rencananya, untuk pembayaran minyak itu dia akan memakai hasil penjualan nantinya. Maka dengan peristiwa ini, prakiraannya meleset. Dan sang tengkulak pun mengadukannya ke pengadilan.

Muhammad ibn Sirin ridho dengan pemidanaannya. Hakim memutuskan, dia harus dijebloskan ke penjara. Penduduk kota merasa berat dan sedih mendengar vonis yang dijatuhkan pada ulama yang sangat terhormat itu. Ya, beliau harus menanggung hukuman bukan karena salah atau dosa. Melainkan justru karena sifat waro’-nya yang membuat beliau sangat menjaga diri dari syubhat. Beliau mengatakan yang benar meski pahit.

Para warga mengantar Muhammad ibn Sirin ke penjara dengan linangan air mata.

Di dalam penjara, sipir yang bertugas juga merasa iba padanya. Tiap hari dia menyaksikan Muhammad ibn Sirin menangis ketika beristighfar, sholat, dan membaca al-Qur’an. “Wahai Syaikh,” satu hari dia menawarkan, “Bagaimana seandainya kuizinkan engkau untuk pulang ke rumahmu setiap malam tiba dan datanglah kembali ke penjara ini seusai shubuh?”

“Jika engkau melakukan itu,” kata Muhammad ibn Sirin sambil tersenyum, “Engkau akan menjadi seorang yang khianat. Demi Alloh, aku ridho berada di tempat ini.”

Tapi satu saat sang penjaga mengatakan bahwa Gubernur dan Pengadilan memerintahkan dan memberinya izin untuk keluar guna mengurus jenazah Anas ibn Malik sesuai dengan wasiat shohabat Rosululloh tersebut. “Aku berada di sini,” jawab Muhammad ibn Sirin, “Bukan karena Gubernur dan Pengadilan. Melainkan karena hutangku pada seorang pedagang. Tolong sampaikan padanya perkara ini. Jika dia mengizinkan aku keluar untuk mengurus jenazah guruku, insya Alloh aku akan melakukannya. Dan sampaikan padanya rasa syukur dan terima kasihku.”

Maka pedagang itu pun dimintai izin, dan dia merelakan.

Seusai mengurus jenazah gurunya, Muhammad ibn Sirin kembali ke penjara. Dia selesaikan seluruh sisa hukumannya dengan penuh kesabaran dan tawakal kepada Alloh.


“Katakan yang benar,” begitu Rosululloh bersabda dalam riwayat al-Baihaqi dari Abu Dzar al-Ghiffari, “Meskipun pahit.” Beberapa ulama fiqh memasukkan hadits ini dalam pembahasan Kitaabut Tijaaroh, kitab perdagangan. Khususnya bab tentang para pedagang. Konteksnya adalah, agar para pedagang berlaku jujur dan terbuka terkait keadaan barang dagangannya.

Sikap ini, mengatakan yang benar meski pahit, sungguh beresiko tinggi bagi sang niagawan. Jika yang bersangkutan mendapatkan barang yang diambilnya dengan harga beli tinggi ternyata tak sesuai dengan kualitas yang dibayangkannya lalu dia harus berkata jujur dan terbuka pada para pembelinya, tentu saja dia dimungkinkan tak mendapatkan keuntungan, merugi, dan bahkan bangkrut. Padahal, bisa saja dia telah ditipu sebelumnya sehingga dia mau membeli barang tersebut. Sedangkan ketika akan menjualnya, dia terbentur kejujuran yang harus dijunjungnya.

Itulah Islam. Dengan kemuliaannya selalu ingin menjaga nilai-nilai kebaikan. Kejujuran para pedagang itu insya Alloh akan memutuskan matarantai ketertipuan sekaligus menjaga kepercayaan masyarakat terhadap para penyedia barang dan jasa. Maka para pedagang itu hendaknya mengatakan yang benar meski pahit.

Dalam kasus Muhammad ibn Sirin, yang terjadi memang bukan penipuan. Tetapi dia juga tak ingin para pembelinya menanggung keraguan atas najis tidaknya minyak itu. Dia sebenarnya punya banyak pilihan. Misalnya dengan menimpakan kesalahan pada pemasoknya. Atau dengan hanya membuang satu kaleng yang didapati bangkai di dalamnya dan tetap menjual yang lain. Tetapi Muhammad ibn Sirin mencontohkan jalan yang lebih tinggi dari sekedar mengatakan yang benar meski pahit. Dia menjaga amanahnya dari ancaman syubhat yang paling halus.

Kita mendapat pelajaran berharga dari sabda Sang Nabi dalam riwayat Imam al-Baihaqi ini. Jika para pedagang mengatakan yang benar meski pahit, dalam kasus mereka, bagi siapakah kepahitan yang dimaksud oleh hadits ini? Benar. Kepahitan itu bagi yang mengucapkannya. Katakan yang benar, meski dengan demikian kita yang mengucapkannya merasa sakit, menanggung rugi, dan bahkan ditimpa bangkrut. Kepahitan itu sama sekali bukan bagi yang mendengarnya. Sebab andai begitu, sabda beliau Shollallohu ‘Alaihi wa Sallam mungkin akan berbunyi, “Dengarkanlah yang benar, meskipun pahit


~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~

Cerita diatas, menurut Mas Salim, konteksnya bukan hanya di perdagangan murni, tapi transaksi yang lain, seperti halnya jasa, kerja dikantor dll.

Minggu, 25 Mei 2014

Jodoh dan berjodoh

Jodoh dan berjodoh, adalah bagian dari Keputusan Allah, penetapan Allah atas manusia. Urusan jodoh dan berjodoh, bukan sebuah urusan kecil dan main-main, karena Allah tak pernah main-main dalam menciptakan manusia, menentukan rezeki, dan perjalanan hidup hingga matinya manusia.

Allah tak sedang ‘mengocok lotre’ dan mengundi seperti arisan ketika menentukan jodoh seseorang. Maka jika kita memiliki harapan tentang calon pendamping hidup kita, menginginkan agar kita segera dipertemukan dengan jodoh kita, maka mintalah pada Allah! Bicaralah pada Allah! Mendekatlah pada Allah! Bulatkan, kuatkan, kencangkan keyakinan kita pada Allah. Apa yang tidak mungkin bagi kita, adalah sangat mudah bagi Allah.

Justru karena kita tidak tahu siapa jodoh kita, kapan bertemunya, bagaimana akhir kisahnya di dunia dan akhirat: maka hidup kita menjadi lebih indah, berwarna dan bermakna. Karena kita akan menjalani kemanusiaan kita dengan tetap menjadi hamba Allah. Menikmati indahnya berjuang, menikmati kesungguh-sungguhan ikhtiar, menikmati indahnya meminta pada Allah, menikmati indahnya memohon pertolongan pada Allah, menikmati indahnya bersabar, menikmati ‘kejutan’-kejutan yang Allah hadirkan dalam kehidupan kita

Kita tidak bisa mengajukan proposal pada Allah. Kita tidak bisa memaksa Allah: pokoknya dia ya Allah, maunya kau dia yang jadi jodohku ya Allah. Kita tidak bisa menguasai dalamnya hati manusia, kita tak bisa membatasi akal pikiran manusia. Ya karena kita tidak berkuasa atas kehidupan dan kematian manusia, atas berbolak-baliknya hati manusia: karena itu kita tak boleh melabuhkan cinta terbesar kita pada manusia.

Kita labuhkan saja cinta terbesar kita pada Allah, yang dengan kecintaan itu lalu Allah melabuhkan cinta manusia yang bertaqwa dalam hati kita. Sehingga taqwa itu yang membuat kita berjodoh dengan orang yang bisa menumbuhsuburkan cinta kita pada Allah. Karena taqwa yang dirajut selama pernikahan yang barakah itu, mudah-mudahan kita berjodoh hingga ke surga. Bukankah ini lebih indah?

Sungguh jodoh tidak berjalan linier di atas garis kecantikan, ketampanan, kekayaan, kedekatan geografis. “Rumus jodoh’ bukan ditentukan oleh hukum kepantasan manusia. Karena manusia hanya tahu permukaannya, berpikir dalam kesempitan ilmunya, memutuskan dalam pengaruh hawa nafsunya. ‘Rumus jodoh’ semata-mata kepunyaan Allah. Karena itu, sebagai hamba kita hanya mampu menerima keputusan Allah.

Menyiapkan diri untuk menerima apapun keputusan Allah. Menyiapkan seluas-luas kesabaran, keikhlasan, sebesar-besar keimanan untuk menerima ‘jatah jodoh’ yang berupa pendamping hidup, rezeki, dan lainnya.
Ya, menunggulah dalam kesibukan memperbaiki diri. Menunggulah dalam kesibukan beramal shalih, persubur silaturahim dan mendoakan saudara seiman.

Kita tidak bisa mempersiapkan orang yang akan menjadi jodoh kita. Kita tidak punya kendali untuk mengatur orang yang ‘akan jadi jodoh kita’. Kita hanya bisa mempersiapkan diri kita. Membekali diri dengan segala kemampuan, keterampilan, sikap hati untuk menjalankan peran-peran dalam pernikahan. Ketika saat itu tiba, ijab qabul sah, seketika itu seperangkat peran diserahkan di pundak kita. Allah menyaksikan! Seketika itu kita akan menjadi istri/suami, menantu, ipar, anggota masyarakat baru. Dan seketika itu pula, tak cukup lagi waktu mempersiapkan diri. Ya, pernikahan bukan awal, jadi jangan berpikir untuk baru belajar, baru berubah setelah menikah.

Hidup itu adalah seni menerima, bukan semata-mata pasrah. Tapi penerimaan yang membuat kita tetap berjuang untuk mendapatkan ridha Allah. Karena apapun yang kita terima dari Allah, semuanya adalah pemberian, harta adalah pemberian, pendamping hidup adalah pemberian, ilmu, anak-anak, kasih sayang, cinta dan semua yang kita miliki hakikatnya adalah pemberian Allah. Semuanya adalah ujian yang mengantarkan kita pada perjuangan mendapatkan keridhaan Allah. Menerima dan bersyukur adalah kunci bahagia, bukan berburuk sangka dan berandai-andai atas apa yang belum diberikan Allah.

“Dan apa saja yang diberikan kepadamu, maka itu adalah kesenangan hidup duniawi dan perhiasannya; sedang apa yang di sisi Allah adalah lebih baik dan lebih kekal, tidakkah kamu mengerti” (QS. al-Qashash: 60)

Menikah bukan akhir, bukan awal, ia setengah perjuangan. Pernikahan berarti peran baru, tanggungjawab baru, tantangan baru: bagian dari daftar yang akan dihisab dan dimintai pertanggungjawaban dari kita di yaumil akhir.
Tentang berjodoh itu, adalah tentang waktu, tentang tempat, tentang masa. Dan yang kita sebutkan tadi semua ada dalam genggaman Allah. Bukankah dalam surat al-ashr Allah bersumpah dengan waktu. “Demi masa, sungguh manusia berada dalam kerugian. Kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan kebajikan serta saling menasihati untuk kebenaran dan saling menasihati untuk kesabaran”. Ya, agar tak bosan, resah dan merugi saat menanti saat walimah tiba, sibuklah memperbaiki iman, amal dan tetap setia dalam kebenaran dan kesabaran.

Menikah dan mendapat pendamping hidup itu tidak pasti, ada banyak orang yang meninggal ketika masih bayi atau remaja. Tapi Mati itu sebuah kepastian. Orang yang menikah pun juga akan mati. Jangan terlalu galau, ada perkara yang lebih besar dari sekedar status menikah atau tidak menikah. Hidup itu bukan semata-mata perjuangan mendapatkan pendamping hidup. Karena yang telah menikah pun, harus terus berjuang agar mereka diberikan rahmat oleh Allah untuk tetap ‘berjodoh’ hingga ke surga, sebagaimana yang disebutkan dalam ayat berikut ini :
“(Yaitu) surga Adn yang mereka masuk ke dalamnya bersama-sama dengan orang-orang yang saleh dari bapak-bapaknya, istri-istrinya dan anak cucunya, sedang malaikat-malaikat masuk ke tempat-tempat mereka dari semua pintu; (sambil mengucapkan): “Salamun alaikum bima shabartum”. Maka alangkah baiknya tempat kesudahan itu.” (QS. Ar Ra’du 23-24).

-repost dari seorang teman yg 'alim dan sedikit tambahan-
Sepenuh cinta

@andryanuar

pemaknaan hijrah

Pertemuan kemarin mendapat ilmu mengenai makna hijrah. Hijrah sendiri setidanya memiliki 4 makna yaitu:
1. Hijrah meninggalkan sesuatu, menjauhi sesuatu, memandang sesuatu hal yang lalu.
“Dan bersabarlah terhadap apa yang mereka ucapkan dan jauhilah mereka dengan cara yang baik.(QS. 73:10)”
Dalam ayat ini Allah memerintahkan kepada Muhammad SAW supaya sabar serta menahan diri menghadapi orang-orang musyrik yang melontarkan kata-kata yang tidak senonoh terhadap dirinya dan Tuhannya, karena kesabaran membawa kepada tercapainya cita-cita. Dan supaya Muhammad SAW memutuskan pergaulan dengan orang-orang yang seperti itu dengan bijaksana tanpa melontarkan cercaan terhadap mereka. Dalam ayat lain yang bersamaan maksudnya, Allah berfirman:

“Dan apabila kamu melihat orang-orang memperolok-olokkan ayat-ayat Kami, maka tinggalkanlah mereka sehingga mereka membicarakan pembicaraan yang lain. “
(Q.S. Al-An'am: 68)

“Maka berpalinglah (hai Muhammad) dari orang yang berpaling dari peringatan Kami, dan tidak mengingini kecuali kehidupan duniawi. “
(Q.S. An Najm: 29)

“Karena itu berpalinglah kamu dari mereka, dan berilah mereka pelajaran, dan katakanlah kepada mereka perkataan yang berbekas pada jiwa mereka. “
(Q.S. An Nisa': 63)

“Barangsiapa berhijrah di jalan Allah, niscaya mereka mendapati di muka bumi ini tempat hijrah yang luas dan rezeki yang banyak. Barangsiapa keluar dari rumahnya dengan maksud berhijrah kepada Allah dan Rasul-Nya, kemudian kematian menimpanya (sebelum sampai ke tempat yang dimaksud), maka sungguh telah tetap pahalanya di sisi Allah. Dan Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang”.( Q.S An.Nisa:100)

Selain kisah-kisah diatas banyak kisah lain seperti kisah NAbi Luth, dan ashabul kahfi,namun pemaknaan diatas kita dapat mengambil hikmah bahwa jika kita pada saat ini berada dalam lingkungan yang buruk dan ketiada berdayaan kita untuk mengubahnya maka pergilah, dan pergilah dengan meninggalkan tempat yang lama dengan perkataan-perkataan yang baik. Meninggalkan lingkungan itu bukan hanya meningglakan tempat tinggal saja, tapi bisa jadi missal teman-teman yang buruk, organisasi yang buruk, tepat kerja yang buruk dan sebagainya.



2. Hijrah; penyucian diri, mensucikan diri, pembersihan diri
Ada kisah menarik dalam hal pemaknaan hijrah yang kedua ini. Kisah nya seperti berikut:
Dalam suatu kisah, ada seorang pendosa yang telah membunuh 99 orang, suatu ketika ia merasa ingin bertobat, tapi ia sendiri bingung apakah dosanya akan terampuni karena ia telah membunuh orang sebanyak 99. Suatu ketika, ia mendatangi seorang ahli ibadah, ia bertanya, “wahai ustadz, aku telah membunuh 99 orang, apakah dosaku bisa terampuni??” Maka sang ahli ibadah pun menjawab, “Ohh.. tidak bisa karena dosamu sudah teramat besar” Mendengar hal tersebut, pembunuh itu lantas membunuh sang ustadz dan genaplah ia telah membunuh 100 orang.(pelajaran tidak semua orang ahli ibadah mampu menjawab persoalan agama) Kemudian pada kejadian lain ia kembali menemui seorang ‘alim, sama seperti sebelumnya, ia bertanya, “Wahai ustadz, aku telah membunuh 100 orang, apakah dosaku bisa terampuni??” Maka sang ustadz menjawab, “Tentu, bertaubatlah dengan taubatan nashuha, taubat yang sebenar-benarnya, Maka Allah akan mengampuni mu. Saran saya pergilah dari tempat tinggalmu sekarang ke tempat yang belum engkau singgahi dan orang-orang yang belum engkau kenali”

Akhirnya pembunuh itu memutuskan pergi ke tempat sesuai arahan sang Ustadz untuk melakukan taubatan nashuha. Namun ternyata Allah memiliki rencana lain, masih dalam perjalanan, ternyata ajal telah lebih dahulu menjemputnya sehingga datanglah dua malaikat yakni malaikat Rahmat dan malaikat azab. Malaikat azab berkata, “ia adalah calon penghuni neraka”, namun malaikat rahmat menjawab, “Tidak!! Meskipun dalam hidupnya ia terus melakukan maksiat, namun dia mati dalam keadaan berniat untuk taubat, maka ia pantas masuk ke surga”. Akhirnya Allah menyuruh kedua malaikat tersebut untuk mengukur jarak keberadaan si pembunuh dengan tujuan dan jarak antara si pembunuh dengan rumah sang ustadz. Namun subhanallah, dengan rahmat Allah bumipun terlipat sehinggalah jarak pembunuh ke masjid lebih dekat dibanding jarak pembunuh dengan rumah sang ustadz.
Maka salah satu cara ingin membersihkan jiwa adalah dengan menghijrahkan diri dengan banyak bertaubat dan berkumpul dengan oran-orang yang shaleh

3. Pemaknaan hirah yang ketiga adalah berpindah diri untuk mengembangkan potensi diri, atau berpindah diri untuk mensyiarkan agama Allah.
Ada ungkapan dari Imam Asy-syafi’I yang baik kita simak:
Orang yang berakal dan beradab tidak pantas bermalas-malas,
Karenanya tinggalkanlah kampung halaman dan merantaulah di nigeri orang.

Pergilah maka akan kau temukan Orang seperti yang kau tinggalkan
Dan bersungguh-sungguhlah sebab kelezatan itu muncul setelah kesusahan.

Telah kuperhatikan bahwa air yang tidak mengalir itu akan merusak.
Jika ia mengalir maka ia akan jernih. Namun jika ia tidak mengalir maka ia akan keruh.

Singa pun akan menjadi buas apabila ia keluar dari sarangnya.
Panah juga tidak mengenai sasaran apabila tidak lepas dari busurnya.

Andaikan matahari itu berhenti dan tetap berada di porosnya.
Orang pun merasa bosan baik Arab maupun Asing.

Emas pun seperti debu bertebar di sela-sela tanah.
Dan cendana yang ditengah hutan sama seperti kayu bakar.

Apabila yang ini mau merantau akan mulia yang ia cari.
Apabila yang mau tinggalkan negerinya ia akan mulia bagaikan emas

Bagi saya pribadi tiga hal makna hijarah diatas sedang berlangsung, termasuk yang ketiga ini. Berpindah untuk mengembangkan diri itu perlu, terutama jika potensi kita telah dibatasi di area kerja kita(baca: resign). Mudah-mudahan setelah mengetahui ada anjuran tentang ini saya segerakan untuk itu. :)
Baik pemaknaan hijrah yang terakhir yang tidak dapat diulang dan tidak aka nada kejadian lagi adalah, hijrahnya zaman nabi, hijrah dari mekkah ke madinah , mekkah ke abasyah dan ditutup makna hijrah keempat ini dengan fathul mekkah.
BAik mudah-mudahan sedikit tulisan dari kajian majlis jejak nabi kemarin di pondok indah bisa bermanfaat

Salam penuh cinta
@andryanuar

Kamis, 06 Maret 2014

#bukticinta

"Rabbighfirlii waliwalidayya warhamhumma kamaa rabbayaa nashighiroo" #bukticinta Mungkin hal2 sederhana bisa sebagai #bukticinta ayah-anak atau anak-ayah namun mungkin bisa jadi itu hal yang luarbiasa melekat di hati Refleksinya ke kehidupan kita sehari2 sudah berapa sering kita #bukticinta pd ayah dan ibunda kita?

Coba baca ini http://www.jamilazzaini.com/cinta-perlu-bukti/… semoga jadi bahan perenungan yaaa... Kesimpulanya, lalu #bukticinta kita kpda ibu dan bapak kita apa?

Belajar dari keluguan dan kepasrahan Ismail AS, yang tanpa ragu menolak perintahNya yg melalui mimpi ayahnya,Ibrahim AS #bukticinta

Belajar dari ketundukan Ibrahim AS, yg tak segan tanyakan lgsung pada Ismail AS, Ismail berkata:lakukanlah wahai ayah! #bukticinta Expand Padahal sdh kita ketahui, Nabi Ibrahim sudah menunggu dikarunia anak puluhan tahun. Baru 10thn dikarunia,lgsung dsuruh dsembelih #bukticinta Belajar bagaimana #bukticinta nabi Ibrahim lebih tinngi padaNya daripada cinta pada anak. --To be cont-Dari sisi yg lain, #bukticinta ibu pd anaknya lebih banyak terlihat,dari mulai mmngandung,melahirkan, menyusui. Lalu dimana peran ayah?

Trs ayah kmn? Pagi anak blm bangun, uda brkt kantor, mlm anak udah tdr ayah br pulang.Ayah sibuk"cari nafkah", #bukticinta

anak jarang interaksi dgn ayahnya.Sangat sedikit sekali waktu bersama ayah.Padahl usia 0-15thn ini anak butuh butuh sosok ayah#bukticinta Tapi itu dulu,anak zaman skrg,tak disusui dan tak diasuh langsung. ibu pun pas di mall lbh sering bawa tas belanjaan dan ank dgn pengsuh:(

Kemudian kita lihat lg di Taman Kanak-Kanak (TK), mostly gurunya ibu2 jg, jenjang SD masih juga banyakan ibu-ibu yg jd guru #bukticinta

Apa sih pentingnya sosok ayah dlm parenting ini? Apa yg terjadi kalau sampai anak mengalami fenomena "lapar ayah"? #bukticinta jawabannya hari ini jam 19-21 hanya d Panggung Selasar, Lt.2 di acara Islamic Book Fair (IBF) 2014 bersama @apwanikah

Sabtu, 22 Februari 2014

Kelola rasa dan hati (2)

Pada suatu sore hari, dua orang sahabat menghampiri sebuah toko untuk membeli makanan. Penjualnya ternyata melayani dengan buruk. Mukanya pun cemberut. Orang pertama jelas jengkel menerima layanan seperti itu. Yang mengherankan, orang kedua tetap enjoy, bahkan bersikap sopan kepada penjual itu. Lantas orang pertama itu bertanya kepada sahabatnya, “Hei. Kenapa kamu bersikap sopan kepada penjual yang menyebalkan itu?”

Sahabatnya menjawab, “Lho, kenapa saya harus mengizinkan dia menentukan cara diri saya dalam bertindak? Kitalah sang penentu atas kehidupan kita, bukan orang lain.”

“Tapi dia melayani kita dengan buruk sekali,” bantah orang pertama. Ia masih merasa jengkel.

“Ya, itu masalah dia. Dia mau bad mood, tidak sopan, melayani dengan buruk, dan lainnya, toh itu enggak ada kaitannya dengan kita. Kalau kita sampai terpengaruh, berarti kita membiarkan dia mengatur dan mempengaruhi hidup kita. Padahal kitalah yang bertanggung jawab atas diri sendiri.”

~~~~~~~~~~~~~~~

Sahabat, Tindakan kita kerap dipengaruhi oleh tindakan orang lain kepada kita. Kalau mereka melakukan hal yang buruk, kita akan membalasnya dengan hal yang lebih buruk lagi. Kalau mereka tidak sopan, kita akan lebih tidak sopan lagi. Kalau orang lain pelit terhadap kita, kita yang semula pemurah tiba-tiba jadi sedemikian pelit kalau harus berurusan dengan orang itu.

Coba renungkan. Mengapa tindakan kita harus dipengaruhi oleh orang lain? Mengapa untuk berbuat baik saja, kita harus menunggu diperlakukan dengan baik oleh orang lain dulu? Jaga suasana hati. Jangan biarkan sikap buruk orang lain kepada kita menentukan cara kita bertindak! Pilih untuk tetap berbuat baik, sekalipun menerima hal yang tidak baik.

Baru-baru ini ada info menarik yang saya baca disini tentang mobil alphard yang notabene tergolong mobil mewah, namun beliau cat menjadi metromini. Jawaban beliau sederhana:

"Kalau hati kita sumeleh, mensyukuri apapun yang Allah telah berikan. Naik Metro mini pun akan berasa nikmat, senikmat naik Alphard. Tapi bagi yang telah ‘berasa’ punya dan lupa akan rasa syukur itu. Maka naik sebuah Alphard pun berasa pengap bagaikan naik sebuah Metro Mini. Kabeh kuwi mung masalah roso (semua hal hanya masalah rasa"


“Pemenang kehidupan” adalah orang yang tetap sejuk di tempat yang panas, yang tetap manis di tempat ya
ng sangat pahit, yang tetap merasa kecil meskipun telah menjadi besar, serta tetap tenang di tengah badai yang paling hebat.



"Dan tidaklah sama kebaikan dan kejahatan. Tolaklah (kejahatan itu) dengan cara yang lebih baik, maka tiba-tiba orang yang antaramu dan antara dia ada permusuhan seolah-olah telah menjadi teman yang sangat setia. Dan sifat-sifat yang baik itu tidak dianugerahkan melainkan kepada orang-orang yang sabar dan tidak dianugerahkan melainkan kepada orang-orang yang mempunyai keberuntungan yang besar."(QS. Fushshilat : 34-35)


:) Semoga manfaat.
Wilujeng morning!

Senin, 10 Februari 2014

Tertawan

Ya Allah,jika cinta adalah ketertawanan Tawanlah aku dengan cinta kepadaMu
Agar tak ada yang dapat menawanku  

Ya Allah,jika rindu adalah rasa skit yang tiada muaranya
Maka penuhilah rasa sakitku dengan rindu kepadaMu
Dan jadikanlah kematian sebagai muara perjumpaan denganMu  

Ya Allah,hatiku hanya  cukup untuk satu cinta,jika itu bukaMu.
Maka kemanakah wajahku hendak kusembunyikan ?
-Faudzil Adhim-