Selasa, 27 Januari 2015

Apa adanya saya

Saya baru sadar. Sifat saya KOLERIS-nya sangaaat dominan. Sisi baiknya, sifat koleris itu berkontribusi pada kemandirian, jiwa pemimpin, dan kemampuan seseorang dalam menyusun visi (visioner, walau kata psikolog dalam assestment kemarin belum muncul). Tapi sisi buruknya, sifat koleris juga dicerminkan dalam karakter keras kepala, bossy, dan 'keukeuh'. Walah.. Belum lagi, sifat koleris di dalam diri saya ini tidak sendirian. Ia ditemani oleh si SANGUINIS yang tergambar dalam karakter senang tampil, suka bicara, nggak mau diem, heboh pokoknya. Hehehe, komplit deh saya.
Dan semuanya itu sangat terlihat di lapangan.
Pernah saya berniat mengubah semua sifat tersebut karena merasa seorang muslim tak semestinya demikian. Saya sekejap beubah menjadi kalem. Mungkin itu baik, tapi jujur.. itu nggak saya banget.
Karakter tegas dan ceria saya tersekap dalam balutan penilaian orang lain yang berkata seharusnya begini, begini, dan begini.
Sampai suatu ketika, saya mendengarkan kisah tentang sahabat Rasulullah bernama Umar bin Khattab. Mata saya terbuka. Sosok dengan karakter keras yang kemudian luluh karena Allah menggetarkan hatinya melalui Al Qur'an dan Islam yang dibawa Rasulullah itu.. ketika ia berhijrah, karakternya tak berubah. Umar tetap keras, namun kerasnya kali itu berubah fungsi menjadi pembela Islam.
Disitulah saya belajar.. bahwa Islam tidak mengubah karakter. Islam mengubah pola pikir. Tidak berfokus pada buah, melainkan pada akar. Sebab bila akar sudah kokoh, buahnya pasti mengikuti.

Kamis, 15 Januari 2015

10 syarah dasar arkanul bai'ah(prinsip dsar dakwah)


  1. Al-Fahmu (Paham), adalah yakin bahwa fikrah (pandangan ) kita adalah fikrah Islami dan sahih.Anda harus memahami Islam sebagaimana diuraikan dalam ushul  ‘isyrin.
  2. Al-Ikhlash, setiap muslim, harus mengharapkan keridhaan Allah dan pahala dari semua ucapan, amal, dan jihad yang dilakukannya tanpa didorong oleh kepentingan pribadi, penampilan, kemewahan, pangkat, gelar, kedudukan dan yang lainnya.
  3. Al-‘Amal, adalah  buah dari ilmu dan ikhlas. ( At-taubah 105 )
  4. Al-Jihad, adalah kewajiban yang harus dilakukan terus menerus dan  berkesinambungan sampai hari kiamat, seperti yang telah dinyatakan dalam hadist Rasulullah Saw: “ Barangsiapa yang mati (sedang) ia tidak pernah berperang dijalan Allah dan tidak pernah berniat untuk berperang (di jalan Allah), ia mati dalam keadaan jahiliah.”
  5. At-Tadhhiah, adalah mengorbankan jiwa, harta, waktu, kehidupan dan semua potensi untuk mencapai tujuan. Di dunia ini tidak ada jihad tanpa pengorbanan. Setiap pengorbanan  dalam memperjuangkan fikrah  kita tidak akan sia-sia, bahkan mendapat pahala yang besar dan baik di sisi Allah SWT. Barang siapa yang tidak mau berkorban bersama-sama kaum muslimin dalam melaksanakan jihad fi sabilillah akan berdosa dan akan menanggung segala akibatnya.
  6. Ath-Tha’ah (Taat), adalah menerima perintah dan melaksanakannya dengan cepat, baik di waktu senang atau sulit, terhadap hal-hal yang disukai atau dibenci.
  7. Ats-Tsabat (Keteguhan), al akh senantiasa bekerja dan berjihad untuk mencapai tujuan, meskipun tujuan tersebut masih jauh bahkan memakan waktu bertahun-tahun  sampai ia bertemu Allah Swt dan benar-benar berhasil memperoleh salah satu dari dua kebaikan : tercapainya tujuan atau mati syahid.
  8. At-Tajarrud (Totalitas),  adalah membersihkan fikrah dari segala pengaruh ajaran dan tokoh lain.
  9. Al-Ukhuwwah, Adalah mengikat hati dan ruh dengan ikatan aqidah, dan aqidah merupakan ikatan yang paling kokoh dan paling mulia. Ukhuwah adalah saudara iman, sedang perpecahan adalah saudara kekufuran. Kekuatan utama adalah kesatupaduan dan kesatupaduan tanpa adanya cinta. Derajat cinta yang paling rendah adalah hati yang selamat dari segala buruk sangka kepada saudara muslim lainnya. Derajat cinta yang paling tinggi adalah itsar.
  10. Ats-Tsiqah, adalah tentramnya jundi  (prajurit) kepada mas-ulnya dalam hal kemampuan dan keikhlasannya.

Senin, 29 Desember 2014

keteguhan atas konsistensi



Ada dua orang yang melihat semut sebagai hewan kecil yang rakus, hanya karena sangat aktif mengumpulkan bahan makanan jauh lebih banyak dari panjang usia yang mungkin di jalaninya. Bahwa nama semut menjadi sebutan bagi salah satu dari 114 surat Al-Qur’an, memang tidak menjadi jaminan mereka tercela atau tidak, berbeda dari semisal Al-Munafiqun dan Al-Kafirun atau nama-nama lain seperti anjing (Qs Al-A’raf: 176), kera dan babi (Qs. Al-Maidah:60). Tetapi kalau bukan untuk tujuan terpuji, untuk apa nama itu disebut dalam kitab suci, seperti surat An Naml dan  An Nahl?
Konon bila ada seekor semut berjalan berputar-putar atau zigzag, maka artinya ia memang sedang bertugas mencari bahan makanan bagi kaumya. Bila menemukan sepotong daging kembang gula atau objek lainnya, di jamin ia tak akan menghabiskannya atau mengangkatnya sendirian. Ia akan berputar-putar sejenak untuk mengukur dan menghitung berapa pasukan semut yang diperlukan. Pulang ke sarang ia berjalan lurus dengan melepaskan asam melalui ekornya yang akan menjadi garis navigasi bagi para pekerja yang akan melaluinya dengan disiplin. Coba-cobalah meletakkan sekeping cokelat atau gula di tepi garis asam semut itu, mereka tetap takkan tergoda. Demikian akurat semut menggunakan  institusinya yang mengajarkan  manusia kapan musim hujan dan kapan musim kemarau akan datang, demikian pula disiplin mereka. Menimbun logistik untuk musim yang lebih panjang dari usia mereka, tetapi bukan untuk kepentingan pribadi, melainkan kepentingan kaum dan bangsa.
Jangan coba-coba menaburkan gula atau kue manis dekat-dekat garis itu. Karena pasukan semut takkan terangsang oleh provokasi atau jebakan itu. Ghayah dan ahdaf (tujuan dan sasaran) mereka jelas. Amal jama’i mereka kompak. Disiplin mereka tinggi. Entah dari mana datangnya dan bagaimana ia mengintai, seekor semut eksekutor  telah siap dengan kepala dan taring  yang besar untuk memenggal kepala semut yang terangsang mengambil makanan di luar garis navigasi. Betapa mahalnya harga yang yang harus dibayar akibat tindakan liar sebagian pasukan artileri yang ditempatkan Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wa sallam di bukit pada Perang Uhud itu. Mereka dipesan untuk jangan meninggalkan front tanpa komando, baik pasukan kita kalah atau menang. Tak pernah sepedih itu duka dan gundah yang dirasakan kanjeng Nabi Shalallahu ‘alaihi wa sallam. Bila jenis serangga ada yang bersuara, itulah nahl lebah yang di perintahkan Allah untuk membangun hunian di gunung-gunung, di pohon-pohon, dan rumah-rumah manusia (Qs An Nahl :68). Mereka disuruh memakan yang baik-baik dan memproduksi yang baik-baik yang sangat berguna bagi kesehatan dan penyembuhan. Mereka berdengung di sarang seperti pasukan mujahid Muslim di zaman Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wa sallam, mendengungkan dzikir di malam hari setelah sepanjang siang dengan penuh semangat dan kesungguhan berjihad membela kebenaran. Mereka tidak suka mengganggu siapapun, namun jangan coba-coba melempari sarang lebah, mereka akan datang full team membalas setiap agresor. Muslim yang tak bersengat bekerja seperti semut, dan yang sudah bersengat berjuang bagaikan lebah. Perumpamaan seorang Muslim seperti Lebah, tak makan kecuali yang baik dan tak keluar p ula dari perutnya kecuali yang baik.

Mentalitas Rendah
Seorang manusia sejati tidak akan terkesiap hanya oleh kemilau benda-benda, daya tarik alam semesta dan segala hal yang fana, kecuali ia menisbahkan semua itu kepada sang Pencipta. Ia wujud sejati dan ia selalu jadi tujuan. Sementara manusia yang bermental anjing, jika ia setia, ia setia kepada sepotong tulang, bukan pada pemberi tulang. Ia menggonggong dengan suara lengkingan yang jauh lebih nyaring dari tuannya. Jangan tanya komitmen, ia takkan  mengerti. Itulah sebabnya tak ada tuah pada pribadi, tutur, dan tindakan mereka yang menggadaikan hidup dan ilmunya untuk kepentingan materi sesaat. Mereka tak bisa mengenali dan tak waspada ataupun ngeri apakah rezki yang mereka dapat dengan penyelewengan itu menjadi karunia atau istidraj (uluran).
Namun masih ada  jenis anjing yang membuat kita ingat akan betapa tinggi nilai ilmu. Bila engkau melepas anjingmu, dengan bismilah, lalu ia membunuh buruannya, lihatlah apakah ia melukai buruanmu di tempat yang tepat atau mencabik dan memakan  daging hewan itu. Yang pertama berburu untuk tuannya, karenanya buruan itu sembelihan yang halal di makan dan yang kedua berburu untuk dirinya, karena itu buruan itu bangkai yang haram dimakan. Catat hari kelahiran seekor babi jantan, tunggu sampai usianya layak kawin. Lihatlah betapa dengan ringan ia gauli ibunya di depan kesaksian bapak kandungnya yang asyik melahap makanannya termasuk kotorannya sendiri. Jangan tanya hewan itu Apa bapak tidak cemburu? Ia takkan buka kamus untuk mencari arti cemburu, karena entri itu memang tak pernah ada dalam kamus mereka atau mereka memang tak punya kamus.


Disiplin, Pahit tetapi sehat.
Syaikh Amin Syinqithy membuktikan betapa Allah memberikan keberkahan bagi umur kita. Ketika murid-muridnya terheran-heran, apa mungkin orang bisa menghatamkan Al-Qur’an dalam sekali salat malam, ia membuktikannya. Betapa rapi bacaannya. Betapa merdu suaranya, betapa nikmat salat bersamanya. Selebihnya, cukup waktu untuk bekerja. Pada ashar hari kamis di akhir pekan, seorang kader dakwah seperti dituturkan Imam Hasan Al-Banna keluar dari bengkel tempat ia bekerja. Malamnya ia sudah memberikan ceramah di sebuah pertemuan beberapa puluh kilometer dari tempatnya. Esok Jum’atnya ia berkhutbah dengan bagus di tempat lain yang cukup jauh. Asharnya ia memberikan pengarahan pada sebuah Mukhoyam (camping) yang diikuti oleh ratusan pemuda da’i berbagai penjuru. Lepas Isya, ia menyampaikan arahan pada sebuah dauroh besar. Ratusan kilometer dalam 30 Jam ditempuhnya, suatu perjalanan yang melelahkan. Namun esoknya, dengan wajah cerah cemerlang dan hati yang tenang, ia telah tiba di tempat kerjanya lebih cepat, tanpa ribut-ribut mengisahkan kerja besar yang baru diselesaikannya.
Sembilan tahun agresi pasukan musyrikin Quraisy dan yang lainnya ke Madinah telah menyibukkan Rasulullah dengan 27 kali (pertemuan yang beliau pimpin langsung) dan 35 kali sariyah (yang di pimpin para sahabat). Serbuan yang bertubi-tubi ini potensial membuat lemah fisik dan mental, dan masuk akal bila beliau dan para sahabat memanfaatkan waktu jeda yang rata-rata sebulan atau sebulan setengah untuk berleha-leha. Namun ternyata justru waktu itu diisi dengan banyak kegiatan, dari mendidik para politisi, panglima perang, hakim, diplomat sampai merangkak dengan anak-anak di punggungnya atau dalam beberapa riwayat dan momentum yang berbeda, berpacu jalan dengan keluarga atau beramahtamah dengan rakyat jelata. Ia pemimpin besar yang menggetarkan banyak bibir kekaguman. Ia panglima besar yang akurat dalam memimpin setiap pertempuran. Ia guru yang melahirkan kader handal. Ia suami yang membuat istrinya kebingungan saat ditanya momen-momen apa yang paling mengesankan semasa hidup bersamanya. Momen mana yang tidak mengagumkan, (ayyu amrihi lam yakun ajaba?!), jawab Aisyah, ummul mu’minin radhiyallahu ‘anha.

Kemapanan; Ancaman titik Balik
Penduduk asli kota-kota besar yang datang beberapa generasi sebelum ini, bagaikan pendaki gunung yang kelelahan dan tak bernafsu lagi untuk berprestasi. Dengarlah jawaban tiga anak-anak tanggung dari tiga kelompok, ketika masing-masing  ditanya kemana Ayah mereka. Yang pertama menjawab: kerja, karena etnik ini lebih pas menjadi birokrat. Yang kedua menjawab cari uang, karena lebihsreg dengan berdagang. Yang ketiga, penduduk asli tersebut menjawab: tidak ada, yang justru karena itu sang tamu bertanya. Mampukah abi-ummi, sebutan bagi sebuah generasi baru menyelamatkan anak-anak mereka menjadi ikhwan akhwat setelah dari masyarakat sekuler mereka berhasil hijrah ke alam baru. Anak- anak mereka tidak merasakan pedih perihnya keterasingan dan pahitnya kebencian. Mereka hanya tahu di rumah mereka ada telah ada televisi, video, VCD dan perangkat hiburan lainnya. Sebagian telah menikmati taraf hidup lebih baik. Sebagian lagi malah telah memasukin dunia jetset dan orang tua yang selebritis.

Jawabnya sangat tergantung kepada komitmen dan integritas masing-masing, sesudah yang terpenting hidayah Allah. Derita dingin malam dan lapar siang, tetap selalu dapat dirasakan oleh si kaya dan si miskin. Rasa sepenanggungan masih tetap dihayati oleh veteran-veteran ghuraba yang kini berdasi dan bermersi. Namun dendam kemiskinan kerap menghinggapi mereka yang tak siap. Dendam itu bisa mengambil bentuk sikap snob, arogan, norak, kufur nikmat dan lupa kacang akan kulitnya. Manusia tetaplah manusia, apapun posisi mereka sebelumnya. Hajjaj bin Yusuf At Tsaqafi adalah seorang guru dan hafiz Al-Qur’an, penyair dan panglima yang ulung sebelum menjadi penjagal ulama dan mujahidin, bagi kepentingan dinasti Bani Ummayah. Qarun berasal dari kaum Nabi Musa yang mendapat suara Bani Israil untuk mewakili perjuangan mereka, sebelum akhirnya ia menjadi antek setia Fir’aun dan menghianati konstituennya. Wallahu ‘alam bisshawab

 -dari berbagai sumber-
garut kota
8 rabiul awal/29 desember 2014

Kamis, 11 Desember 2014

#refleksi 2


Seseorang berkata kepada sayyidina ali bin abi thalib ra
“Ya Ali kulihat sahabat-sahabatmu begitu setia sehingga mereka banyak sekali, berapakah sahabatmu itu?”
Sayyidina Ali menjawab
“nanti akan kuhitung setelah aku tertimpa musibah”

Sahabat yang benar itu berjumpa karena keterikatan hati dengan saling mencintai karena Allah,
perjumpaan karena Allah dan perpisahanya pun karena Allah.

Dewasa ini kita lihat negeri ini berbagai serambi politik legistalif,anggota partai hingga anggota poliso dan tni
Bersitegang,haqqul yakkin ada niat selain karena Allah.

Dan saat ini ucapan sahabat Ali,benar adanya. satu persatu mulai meninggalkan...

Kemenangan yang Besar


“Kami pernah berembuk, siapakah di antara kalian yang bersedia datang kepada Rasulullah, untuk menanyakan kepada beliau tentang amal apakah yang disukai Allah? Namun tidak ada seorang pun dari kami yang beranjak bangun. Kemudian Rasulullah mengutus seseornag kepada kami, yakni surat ash-shaff secara keseluruhan” HR. Imam Ahmad

"Telah bertasbih kepada Allah apa saja yang ada di langit dan apa saja yang ada di bumi; dan Dialah Yang Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana. Wahai orang-orang yang beriman, kenapakah kamu mengatakan sesuatu yang tidak kamu kerjakan? Amat besar kebencian di sisi Allah bahwa kamu mengatakan apa-apa yang tidak kamu kerjakan. Sesungguhnya Allah menyukai orang yang berperang dijalan-Nya dalam barisan yang teratur seakan-akan mereka seperti suatu bangunan yang tersusun kokoh.( 1-4)



Maha besar Allah, sebelum menyebutkan kata benci dan cinta, Allah hujamkan dahulu kekuasaanNya. Bahwa kebencianNya, pada dia yang sering berkata namun tidak ada yang diperbuat( pelajaran untuk yang nulis ini) da begitu amat mencintai bagi orang yang berjihad dijalan Allah dalam barisan yang teratur. Ibn Abbas mengatakan yakni teguh, tidak akan tumbang, masing-masing bagian merekat erat dengan yang lain. Qatadah menafsirkan, Tidakkah engkay perhatikan pemilik bangunan, bagimana ia tidak ingin bangunanya itu berantakan
Adapun bangunan yang kita pahami, terdiri dari pondasi, beton, semen, air, pasir cat, kusen dan lainya. Semua disatukan, air, semen, pasir bersatu diaduk-aduk. Ada pergesekan disana, lalu dibuat bersatu dengan beton dengan ditopang sementara oleh kayu, setelah terkena sengat matahari dan kering. Penahan kayu dibuka, lalu permukaan yang kasar dihasilkan dengan semen halus, diratkan dengan plamir lalu agar terlihat indah ditutupi dengan cat yang berup-rupa warna.
Begitulah dakwah jamai ini, kita dilahirkan dan dibesarkan dengan kultur berbeda dan memiliki latar dan keilmuan yang berbeda. Ketika kita akan merapatkan barisan, ujian kita adalah mengenal dan memahami hingga tingkatan ukhuwah paling tinggi, saling itsar,mendahulukan kepentingan saudara daripada kepentingan sendiri. Pergesekan perbedaan pendapat, baiknya kita sikapi sebagai vitamin dakwah ini, jika dosis tepat gerak langkah dakwah ini semakin sehat, namun sebaliknya jika kurang tepat, akan menggelayuti membuat cucuk dan duri dalam tubuh dakwah ini naudzubillah.
Dalam kesatuan amal jama’i ada diantara kita yang mendapatkan nilai tinggi karena ia betul-betul sesuai dengan tuntutan dan adab amal jama’i. Kejujuran, kesuburan, kejernihan dan kehangatan ukhuwahnya betul-betul terasa. Keberadaannya menggairahkan dan menenteramkan. Namun perlu diingat, walaupun telah bekerja dalam jaringan amal jama’i, namun pertanggungjawaban amal kita akan dilakukan di hadapan Allah SWT secara sendiri-sendiri.

Karenanya jangan ada diantara kita yang mengandalkan kumpulan-kumpulan besar tanpa berusaha meningkatkan kualitas dirinya. Ingat suatu pesan Rasulullah SAW:Siapa yang lamban beramal tidak akan dipercepat oleh nasabnya. Makna proses pembinaan(tarbiyah) itu sendiri adalah mengharuskan seseorang lebih berdaya, bukan terus menerus menempel dan tergantung pada orang lain. Meskipun kebersamaan itu merupakan sesuatu yang baik tapi ada saatnya kita tidak dapat bersama, demikian sunahnya. Sebab kalau mau, para sahabat Rasulullah SAW bisa saja menetap dan wafat di Madinah, atau terus menerus tinggal ber-mulazamah tinggal di masjidil Haram yang nilainya sekian ratus ribu atau di Masjid Nabawi yang pahalanya sekian ribu kali. Tapi mengapa makam para Sahabat tidak banyak berada di Baqi atau di Ma’la. Tetapi makam mereka banyak bertebaran jauh, beribu-ribu mil dari negeri mereka.

Sesungguhnya mereka mengutamakan adanya makna diri mereka sebagai perwujudan firman-Nya: Wal takum minkum ummatuy yad’una ilal khoir. Atau dalam firman-Nya: Kuntum khoiro ummati ukhrijat linnasi (Kamu adalah sebaik-baiknya ummat yang di-tampilkan untuk ummat manusia. Qs. 3;110). Ummat yang terbaik bukan untuk disembunyikan tapi untuk ditampilkan kepada seluruh ummat manusia. Inilah sesuatu yang sangat perlu kita jaga dan perhatikan. Kita semua beramal tapi tidak larut dalam kesendirian. Hendaklah ketika sendiri kita selalu mendapat cahaya dan menjadi cahaya yang menyinari lingkungan sekitarnya. Jangan ada lagi diantara kita yang mengatakan, saya jadi buruk begini karena lingkungan. Mengapa tidak berkata sebaliknya, karena lingkungan seperti itu, saya harus mempengaruhi lingkungan itu dengan pengaruh yang ada pada diri saya. Seharusnya dimanapun dia berada ia harus berusaha membuat kawasan-kawasan kebaikan, kawasan cahaya, kawasan ilmu, kawasan akhlak, kawasan taqwa, kawasan al-haq, setelah kawasan-kawasan tadi menjadi sempit dan gelap oleh kawasan-kawasan jahiliyah, kezaliman, kebodohan dan hawa nafsu.
Dimanapun dia berada terus menerus memberi makna kehidupan. Seperti sejarah da’wah ini, tumbuh dari seorang, dua orang kemudian menjadi beribu-ribu atau berjuta-juta orang. Sangat indah ungkapan Imam Syahid Hasan Al Banna, "Antum ruhun jadidah tarsi fi jasadil ummah". Kamu adalah ruh baru, kamu adalah jiwa baru yang mengalir di tubuh ummat, yang menghidupkan tubuh yang mati itu dengan Al-Qur’an.
Hai orang-orang yang beriman, sukakah kamu aku tunjukkan suatu perniagaan yang dapat menyelamatkanmu dari azab yang pedih? (yaitu) kamu beriman kepada Allah dan Rasul-Nya dan berjihad di jalan Allah dengan harta dan jiwamu. Itulah yang lebih baik bagimu, jika kamu mengetahui. Niscaya Allah akan mengampuni dosa-dosamu dan memasukkanmu ke dalam jannah yang mengalir di bawahnya sungai-sungai; dan (memasukkan kamu) ke tempat tinggal yang baik di dalam jannah ´Adn. Itulah keberuntungan yang besar.(10-12)

Allah telah telah tawarkan perniagaan yang tidak pernah rugi kita transaksinya. Yaitu tegakan kalimat tauhiid di bumi Allah! Jihad(sungguh-sungguh) dijalan Allah dengan jiwa dan harta. Jangan ada sesudah ini, ada diantara kita yang hanya mengandalkan kerumunan besar untuk merasakan eksistensi dirinya. Tapi, dimanapun dia berada ia tetap merasakan sebagai hamba Allah SWT, ia harus memiliki kesadaran untuk menjaga dirinya dan taqwanya kepada Allah SWT, baik dalam keadaan sendiri maupun dalam keadaan terlihat orang. Kemana-pun pergi, ia tak merasa kesunyian, tersudut atau terasing, karena Allah senantiasa ber-samanya. Bahkan ia dapatkan kebersamaan rasul-Nya, ummat dan alam semesta senanti-asa. Kehebatan Namrud bagi Nabi Ibrahim AS tidak ada artinya, tidaklah sendirian. ALLAH bersamanya dan alam semesta selalu bersamanya. Api yang berkobar-kobar yang dinyalakan Namrud untuk membinasakan dirinya, ternyata satu korps dengannya dalam menu-naikan tugas pengabdian kepada ALLAH. Alih-alih dari menghanguskannya, justeru ma-lah menjadi "bardan wa salaman" (penyejuk dan penyelamat). Karena itu, kita yakin bahwa Allah SWT akan senantiasa membuka jalan bagi pejuang Da’wah sesuai dengan janji-Nya, In tansurullah yansurukum wayu sabit akdamakum (Jika kamu menolong Allah, Ia pasti akan menolongmu dan mengokohkan langkah kamu)

Semoga kita senantiasa mendapatkan perlindungan dan bimbingan dari Allah SWT ditengah derasnya arus dan badai perusakan ummat. Kita harus yakin sepenuhnya akan pertolongan Allah SWT dan bukan yakin dan percaya pada diri sendiri. Masukkan diri kedalam benteng-benteng kekuatan usrah atau halaqah tempat Junud Da’wah melingkar dalam suatu benteng perlindungan, menghimpun bekal dan amunisi untuk terjun ke arena pertarungan Haq dan bathil yang berat dan menuntut pengorbanan.

Disanalah kita mentarbiah diri sendiri dan generasi mendatang. Inilah sebagian pelipur kesedihan ummat yang berkepanjangan, dengan munculnya generasi baru.Generasi yang siap memikul beban da’wah dan menegakan Islam. Inilah harapan barubagi masa depan yang lebih gemilang, dibawah naungan Alqur-an dan cahaya Islam rahmatan lil alamin.




Kostan Pa Haji, 02.30 (18 safar 1436)


-terinsipirasi dari tulisan Sang Murabbi, KH Rahmat Abdullah-






Rabu, 10 Desember 2014

refleksi

banyak saudara yang kemudian menunjukkan kepedulian dengan saran, masukan, kritik, bahkan cerca, dan kecaman. Semuanya memperkaya jiwa; mereka menunjukkan kelebihan maupun kekurangan diri yang takkan saya sadari tanpa respons mereka.

Senin, 08 Desember 2014

Cause everything u want from me too high . .

Cause everything u want from me too high (vertical horizon)

Ketika seseorang menjalani amanah yang diberikan, orang2 disekeliling dan yang dipimpin selalu mengharapkan yang lebih baik dari keadaan yang ada sekarang. Itu merupakan hal yang wajar ketika orang2 ingin mengubah keadaanya dan lingkungan menjadi yang mereka citacitakan. Namun terkadang mereka sering terjebak oleh keadaan yang menciptakan diri mereka "diluar". Mereka merasa itu bukan bagian saya,itu bagian dia(pemimpin) yang merubah ini, merubah itu. .
Hmm, aneh,mereka yang punya cita2 tpi mereka punya perasaan bhwa mewujudkanya itu bukan dari bagian kerja mereka tetapi bagian kerja dia. .

Mereka mengganggap pemimpinya mampu mengerjakan sndrian, dn dapat mengatasi sendrian.
Terlalu mengharapkan yang lebih darinya.


Namun ketika berjalan pelaksanaanya,sikap baik sang pemegang amanah terkadang disalah artikan, ya mereka kesel lh,mengapa bgni tida sesuai keinginanya, dan parahnya (lagi) mereka hanya skedar berucap tida berbuat.

Yuu,kita introspeksi masing2. Sang pemegang amanah mungkin belum baik dalam mengkomunikasikn maksud dan tujuanya shingga menimbulkn kebingungan untknya.
Dan yang dipimpin pun sama, bareng2 dalam berbuat,koreksilh atas dasar mengingnkn kbenaran bukan "kmenangan diri"

bukankah domba yang bergerombol akan membuat gentar srigala dibanding domba yg brjalan sndirian?

4 mei 2010 kamar 12 asrama POLBAN

-dan saat ini masih relevan-