Senin, 29 Desember 2014

keteguhan atas konsistensi



Ada dua orang yang melihat semut sebagai hewan kecil yang rakus, hanya karena sangat aktif mengumpulkan bahan makanan jauh lebih banyak dari panjang usia yang mungkin di jalaninya. Bahwa nama semut menjadi sebutan bagi salah satu dari 114 surat Al-Qur’an, memang tidak menjadi jaminan mereka tercela atau tidak, berbeda dari semisal Al-Munafiqun dan Al-Kafirun atau nama-nama lain seperti anjing (Qs Al-A’raf: 176), kera dan babi (Qs. Al-Maidah:60). Tetapi kalau bukan untuk tujuan terpuji, untuk apa nama itu disebut dalam kitab suci, seperti surat An Naml dan  An Nahl?
Konon bila ada seekor semut berjalan berputar-putar atau zigzag, maka artinya ia memang sedang bertugas mencari bahan makanan bagi kaumya. Bila menemukan sepotong daging kembang gula atau objek lainnya, di jamin ia tak akan menghabiskannya atau mengangkatnya sendirian. Ia akan berputar-putar sejenak untuk mengukur dan menghitung berapa pasukan semut yang diperlukan. Pulang ke sarang ia berjalan lurus dengan melepaskan asam melalui ekornya yang akan menjadi garis navigasi bagi para pekerja yang akan melaluinya dengan disiplin. Coba-cobalah meletakkan sekeping cokelat atau gula di tepi garis asam semut itu, mereka tetap takkan tergoda. Demikian akurat semut menggunakan  institusinya yang mengajarkan  manusia kapan musim hujan dan kapan musim kemarau akan datang, demikian pula disiplin mereka. Menimbun logistik untuk musim yang lebih panjang dari usia mereka, tetapi bukan untuk kepentingan pribadi, melainkan kepentingan kaum dan bangsa.
Jangan coba-coba menaburkan gula atau kue manis dekat-dekat garis itu. Karena pasukan semut takkan terangsang oleh provokasi atau jebakan itu. Ghayah dan ahdaf (tujuan dan sasaran) mereka jelas. Amal jama’i mereka kompak. Disiplin mereka tinggi. Entah dari mana datangnya dan bagaimana ia mengintai, seekor semut eksekutor  telah siap dengan kepala dan taring  yang besar untuk memenggal kepala semut yang terangsang mengambil makanan di luar garis navigasi. Betapa mahalnya harga yang yang harus dibayar akibat tindakan liar sebagian pasukan artileri yang ditempatkan Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wa sallam di bukit pada Perang Uhud itu. Mereka dipesan untuk jangan meninggalkan front tanpa komando, baik pasukan kita kalah atau menang. Tak pernah sepedih itu duka dan gundah yang dirasakan kanjeng Nabi Shalallahu ‘alaihi wa sallam. Bila jenis serangga ada yang bersuara, itulah nahl lebah yang di perintahkan Allah untuk membangun hunian di gunung-gunung, di pohon-pohon, dan rumah-rumah manusia (Qs An Nahl :68). Mereka disuruh memakan yang baik-baik dan memproduksi yang baik-baik yang sangat berguna bagi kesehatan dan penyembuhan. Mereka berdengung di sarang seperti pasukan mujahid Muslim di zaman Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wa sallam, mendengungkan dzikir di malam hari setelah sepanjang siang dengan penuh semangat dan kesungguhan berjihad membela kebenaran. Mereka tidak suka mengganggu siapapun, namun jangan coba-coba melempari sarang lebah, mereka akan datang full team membalas setiap agresor. Muslim yang tak bersengat bekerja seperti semut, dan yang sudah bersengat berjuang bagaikan lebah. Perumpamaan seorang Muslim seperti Lebah, tak makan kecuali yang baik dan tak keluar p ula dari perutnya kecuali yang baik.

Mentalitas Rendah
Seorang manusia sejati tidak akan terkesiap hanya oleh kemilau benda-benda, daya tarik alam semesta dan segala hal yang fana, kecuali ia menisbahkan semua itu kepada sang Pencipta. Ia wujud sejati dan ia selalu jadi tujuan. Sementara manusia yang bermental anjing, jika ia setia, ia setia kepada sepotong tulang, bukan pada pemberi tulang. Ia menggonggong dengan suara lengkingan yang jauh lebih nyaring dari tuannya. Jangan tanya komitmen, ia takkan  mengerti. Itulah sebabnya tak ada tuah pada pribadi, tutur, dan tindakan mereka yang menggadaikan hidup dan ilmunya untuk kepentingan materi sesaat. Mereka tak bisa mengenali dan tak waspada ataupun ngeri apakah rezki yang mereka dapat dengan penyelewengan itu menjadi karunia atau istidraj (uluran).
Namun masih ada  jenis anjing yang membuat kita ingat akan betapa tinggi nilai ilmu. Bila engkau melepas anjingmu, dengan bismilah, lalu ia membunuh buruannya, lihatlah apakah ia melukai buruanmu di tempat yang tepat atau mencabik dan memakan  daging hewan itu. Yang pertama berburu untuk tuannya, karenanya buruan itu sembelihan yang halal di makan dan yang kedua berburu untuk dirinya, karena itu buruan itu bangkai yang haram dimakan. Catat hari kelahiran seekor babi jantan, tunggu sampai usianya layak kawin. Lihatlah betapa dengan ringan ia gauli ibunya di depan kesaksian bapak kandungnya yang asyik melahap makanannya termasuk kotorannya sendiri. Jangan tanya hewan itu Apa bapak tidak cemburu? Ia takkan buka kamus untuk mencari arti cemburu, karena entri itu memang tak pernah ada dalam kamus mereka atau mereka memang tak punya kamus.


Disiplin, Pahit tetapi sehat.
Syaikh Amin Syinqithy membuktikan betapa Allah memberikan keberkahan bagi umur kita. Ketika murid-muridnya terheran-heran, apa mungkin orang bisa menghatamkan Al-Qur’an dalam sekali salat malam, ia membuktikannya. Betapa rapi bacaannya. Betapa merdu suaranya, betapa nikmat salat bersamanya. Selebihnya, cukup waktu untuk bekerja. Pada ashar hari kamis di akhir pekan, seorang kader dakwah seperti dituturkan Imam Hasan Al-Banna keluar dari bengkel tempat ia bekerja. Malamnya ia sudah memberikan ceramah di sebuah pertemuan beberapa puluh kilometer dari tempatnya. Esok Jum’atnya ia berkhutbah dengan bagus di tempat lain yang cukup jauh. Asharnya ia memberikan pengarahan pada sebuah Mukhoyam (camping) yang diikuti oleh ratusan pemuda da’i berbagai penjuru. Lepas Isya, ia menyampaikan arahan pada sebuah dauroh besar. Ratusan kilometer dalam 30 Jam ditempuhnya, suatu perjalanan yang melelahkan. Namun esoknya, dengan wajah cerah cemerlang dan hati yang tenang, ia telah tiba di tempat kerjanya lebih cepat, tanpa ribut-ribut mengisahkan kerja besar yang baru diselesaikannya.
Sembilan tahun agresi pasukan musyrikin Quraisy dan yang lainnya ke Madinah telah menyibukkan Rasulullah dengan 27 kali (pertemuan yang beliau pimpin langsung) dan 35 kali sariyah (yang di pimpin para sahabat). Serbuan yang bertubi-tubi ini potensial membuat lemah fisik dan mental, dan masuk akal bila beliau dan para sahabat memanfaatkan waktu jeda yang rata-rata sebulan atau sebulan setengah untuk berleha-leha. Namun ternyata justru waktu itu diisi dengan banyak kegiatan, dari mendidik para politisi, panglima perang, hakim, diplomat sampai merangkak dengan anak-anak di punggungnya atau dalam beberapa riwayat dan momentum yang berbeda, berpacu jalan dengan keluarga atau beramahtamah dengan rakyat jelata. Ia pemimpin besar yang menggetarkan banyak bibir kekaguman. Ia panglima besar yang akurat dalam memimpin setiap pertempuran. Ia guru yang melahirkan kader handal. Ia suami yang membuat istrinya kebingungan saat ditanya momen-momen apa yang paling mengesankan semasa hidup bersamanya. Momen mana yang tidak mengagumkan, (ayyu amrihi lam yakun ajaba?!), jawab Aisyah, ummul mu’minin radhiyallahu ‘anha.

Kemapanan; Ancaman titik Balik
Penduduk asli kota-kota besar yang datang beberapa generasi sebelum ini, bagaikan pendaki gunung yang kelelahan dan tak bernafsu lagi untuk berprestasi. Dengarlah jawaban tiga anak-anak tanggung dari tiga kelompok, ketika masing-masing  ditanya kemana Ayah mereka. Yang pertama menjawab: kerja, karena etnik ini lebih pas menjadi birokrat. Yang kedua menjawab cari uang, karena lebihsreg dengan berdagang. Yang ketiga, penduduk asli tersebut menjawab: tidak ada, yang justru karena itu sang tamu bertanya. Mampukah abi-ummi, sebutan bagi sebuah generasi baru menyelamatkan anak-anak mereka menjadi ikhwan akhwat setelah dari masyarakat sekuler mereka berhasil hijrah ke alam baru. Anak- anak mereka tidak merasakan pedih perihnya keterasingan dan pahitnya kebencian. Mereka hanya tahu di rumah mereka ada telah ada televisi, video, VCD dan perangkat hiburan lainnya. Sebagian telah menikmati taraf hidup lebih baik. Sebagian lagi malah telah memasukin dunia jetset dan orang tua yang selebritis.

Jawabnya sangat tergantung kepada komitmen dan integritas masing-masing, sesudah yang terpenting hidayah Allah. Derita dingin malam dan lapar siang, tetap selalu dapat dirasakan oleh si kaya dan si miskin. Rasa sepenanggungan masih tetap dihayati oleh veteran-veteran ghuraba yang kini berdasi dan bermersi. Namun dendam kemiskinan kerap menghinggapi mereka yang tak siap. Dendam itu bisa mengambil bentuk sikap snob, arogan, norak, kufur nikmat dan lupa kacang akan kulitnya. Manusia tetaplah manusia, apapun posisi mereka sebelumnya. Hajjaj bin Yusuf At Tsaqafi adalah seorang guru dan hafiz Al-Qur’an, penyair dan panglima yang ulung sebelum menjadi penjagal ulama dan mujahidin, bagi kepentingan dinasti Bani Ummayah. Qarun berasal dari kaum Nabi Musa yang mendapat suara Bani Israil untuk mewakili perjuangan mereka, sebelum akhirnya ia menjadi antek setia Fir’aun dan menghianati konstituennya. Wallahu ‘alam bisshawab

 -dari berbagai sumber-
garut kota
8 rabiul awal/29 desember 2014

Tidak ada komentar:

Posting Komentar